Senin, 01 November 2010

Tak Sampai

Jika tak sampai waktuku menjemput.
Kan ku kirimkan shelai Doa pada kabut gelap atau terang yg melenggang.
Tak perlu ku katakan pd gelap tuk kmbali terang.Tak usah kusampaikan kpda hujan sgera mereda.Atau Menunjukkan pada siang akan ksenangan.Dan mengabari angin menyebarkan kbahagian,seakan brlebihan.Yg pasti Kau&Aku tau sgalanya tntang hati..

^_Allah Maha Mengetahui,yg nampak&yg trsembunyi_^

Rabu, 22 September 2010

Langit Biruku tak kan Mendung


Kpada hati yg terluka,
kpada nama yg kcewa...
oleh egoku? atau Setiaku?
Maaf kpada rasa yg kujaga.
ketahuilah,,
meski "mereka" mlihat langit mendung,
nmun aku lebih tau cerahnya langit biruku.
Semua akan baik.
smua akan baik.
smua akan baik.
percaya Yang Maha Kasih, Illahi.. Terima Kasih telah di sisiku, kuatkanku.

Sabtu, 18 September 2010

Lelaki adalah sosok Imam rusuknya..



______"Lelaki"...

sebagian besar, pemuda masa kini, lebih merasa bangga jika ia dipandang tampan, gaul atau kaya, ada pula lelaki yg dengan bangganya merasa dirinya baik hati, pintar, dewasa (tanggung jawab) tanpa menimbang sekuat apa Iman & Agama (IbadahNya). dan ada pula lelaki yang merasa dirinya sudah tepat IbadahNya, namun hatinya masih saja keras.. hmmm..??!!@#*

Yang Pasti...
Lelaki sebenarnya adalah lelaki yang mampu jadi Imam ^_^

"Imam" di sini adalah suami...

1. Suami yang tegas bukan terlihat dari suaranya yang lantang saat menyuruh istrinya untuk membuatkan sarapan atau sekedar teh, tapi imam yang tegas terlihat ketika ia dengan lantang mengucapkan "takbiratul ihram" untuk melaksanakan 5 waktu-Nya.

2. Suami yang baik bukan terlihat dari banyaknya ia memberikan hadiah kepada istrinya, tapi imam yang baik terlihat saat seberapa banyak ia mengajak istrinya untuk mengucap kalam-kalam illahi.

3. Suami yang sabar bukan terlihat dari seberapa sering ia mengalah dalam pertengkaran, tapi imam yang sabar terlihat ketika ia dengan sabar membangunkan istrinya untuk menghadap di 1/3 malam-Nya.

4. Suami yang bijaksana bukan terlihat dari seringnya ia mengistimewakan istrinya, tetapi terlihat ketika ia sering mengistimewakan anak-anak yatim dengan 2,5 % yang bukan menjadi haknya.

5. Suami yang bertanggung-jawab terlihat ketika membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi imam yang bertanggung-jawab terlihat ketika dengan tanggap ia menolong orang yang berkekurangan.

6. Suami yang percaya diri bukan terlihat ketika ia menghadap orangtuanya dan meminta izin untuk meng-ijab wanitanya, tetapi imam yang percaya diri terlihat ketika ia tetap menggandeng istrinya meskipun waktu dan usia telah memudarkan kecantikannya.

7. Suami yang berlebih secara materi akan bangga mengajak keluarga kecilnya untuk menghabiskan liburan disebuah negara atau pulau yang indah, tapi imam yang berlebih secara materi akan bangga mengajak keluarga kecilnya untuk berderma di sebuah pondok-pondok kecil milik anak yatim dan piatu.

8. Suami yang tegar terlihat ketika ia dengan rela harus menghadapi pelbagai masalh dalam kehidupannya, tetapi imam yang tegar dapat terlihat ketika ia dengan keikhlasannya tetap menjalankan segala perintah-Nya untuk menjaga keutuhan iman keluarganya.

9. Suami yang begitu mencintai istrinya bukan terlihat ketika ia selalu ada disamping sang istri, tetapi imam yang begitu mencintai istrinya terlihat saat ia menjadikan cinta kepada istrinya dengan menjalankan perintah-Nya.

10. Suami yang murah senyum tampak ketika ia dan keluarga kecilnya begitu bahagia dengan rezeqi, tetapi imam yang murah senyum akan tetap tersenyum meskipun ia harus mengalami kekurangan rezeqi dan tetap bersyukur.

11. Suami yang selalu bersyukur akan terlihat ketika selesai menjalankan perintah-Nya bersama keluarga dan berucap " Ya Allah terima kasih Engaku telah melengkapi kesempurnaan agama ku..", tetapi imam yang selalu bersyukur akan berucap " Ya Allah jangan jadikan kesempurnaan dalam agama ku dan kehidupan ku ini membuat aku menjadi khilaf dan khianat kepada-Mu.."

12. Suami yang rendah hati terlihat dari menerima semua apa yang ada di istrinya, tapi imam yang rendah hati terlihat ketika ia harus bertanggung jawab untuk membawa istri dan keluarganya kedalam 7 tingkatan surga-Nya.

13. Suami yang berani akan berucap "saya akan menjaga dan melindungi istri saya dari gangguan orang lain...", tetapi imam yang berani akan berucap "saya akan melindungi istri dan keluarga saya dari jilatan 7 tingkatan api neraka". (berbagai sumber)

Subhanallah... Smoga para calon Imam atau yg telah menjadi Imam, selalu diberikan berkah dan Ridho dlm sgala hal.. dan dg adanya Imam, smoga dlm rumah tangga slalu dinaungi kekuatan Sakinah, Mawaddah dan Rahmah.

"Aku Mencintaimu karna Agamamu (Islam)" ^_^
Karna aku tercipta dari rusukmu yg bengkok, maka luruskanlah rusuk ini dg Iman dan Taqwamu kpda Allah Ya Rabb.. ^_^

Senin, 06 September 2010

Menyadari kesalahan dalam memaknai Idul Fitri..


MIN AL AIDIN WAL FAIDZIN
Jika kita mengartikannya secara bahasa dengan cara dipotong-potong kalimatnya,

Min, artiinya “termasuk”.
Al-aidin, artinya”orang-orang yang kembali”
Wa, artinya “dan”
Al-faidzin, artinya “ menang”.
Sehingga makna MINAL AIDIN WAL FAIDZIN adalah “termasuk dari orang-orang yang kembali(dari perjuangan ramadhan) sebagai orang yang menang”.

Sehingga ketika ada yang mengucapan kalimat “MINALAIDIN WAL FAIDZIN-MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN”, maka ia sama saja mengatakan, “Termasuk dari orang-orang yang kembali(dari perjuangan ramadhan) sebagai orang yang menang, mohon maaf lahir dan batin”.

Ucapan MINAL AIDIN WAL FAIDZIN berasal dari riwayat yang tidak bisa dijadikan dalil, termasuk lemah(Dho’if), atau tingkat riwayatnya dibawahnya lagi. Kalimat ini merupakan lengkapan dari kalimat do’a :
”Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum minal aidin wal faidzin”

Yang artinya,
“Semoga Allah menerima amal-amal kami dan kamu, Dan semoga Ia menjadikan kami dan kamu termasuk dari orang-orang yang kembali(dari perjuangan Ramdhan sebagai orang yang menang.”

Jadi mengucapkan minalaidin walfaidzin jika kita mengucapkannya dengan niat ingin mencontoh kebiasaan Rosulullah atau istilah arabnya ittiba’qauly, jatuhnya bisa menjadi Bid’ah, Tapi kalau niatnya hanya untuk “Ingin mendoakan sesama Saudara seiman”, Insya Allah, tidak salah. Bahkan hal yang baik.

Sedangkan bahasa arabnya ucapan “mohon maaf lahir dan batin” yang benar salah satunya adalah “Asalukal afwan zahiran wa bathinan”. Atau “wa al afwu minkum”. “Bukan Minal aidin wal faidzin”

Maaf-maafan dalam Aidul- Fitri juga sebenarnya hanya tradisi saja. Karena tidak ada riwayat satupun yang kuat maupun yang lemah yang menyatakan Rosulullullah pernah meakukannya. Riwayat yang ada hanya“Taqabbalallahu…sampai…shiyamakum”.(tanpa minal Aidin wal faidzin). Jadi, jika kita bermaaf-maafan denga niat ittiba’(mencontoh) Rosululah, jatuhnya jadi bid’ah. Tapi jika sekedar hanya ingin memanfaatkan momen lebaran untuk bermaaf-maafan Insya Allah tidak mengapa, dan tidak perlu menggunakan bahasa arab karena itu seperti kita meminta maaf atas kesalahan-kesalahan kita seperti hari-hari biasa atau waktu lain selain lebaran.
Sedangkan bahasa arabnya ucapan “mohon maaf lahir dan batin” yang benar salah satunya adalah “Asalukal afwan zahiran wa bathinan”. Atau “wa al afwu minkum”. “Bukan Minal aidin wal faidzin”

Menurut sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad saw. Pernah menganjurkan agar
siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu
menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini,
sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan
meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akherat sudah tidak ada
lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum
meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya:
apabila dia punya amal saleh, dari amal salehnya itulah tanggungannya akan
ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan
ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, jawahir
al-Bukhori, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430).


Apabila meminta maaf begitu penting, maka memberi maaf Allah Yang Maha
Pengampun bahkan tersebut salah satu cirri orang takwa dan muhsin yang
dicintai-Nya ( Q.s ali imron: 133-4).


Dalam hadits shahih yang sering disitir para mubalig dalam acara halal bihalal itu, “inna ‘I muslisa min ummanatii man ya’ti yauma ‘I qiyamati...”
(H.r. Muslimin dari Abu Hurairah). “orang yang benar-benar pailit-diantara umatku-ialah orang yang di hari kiamat dengan membawa (seabrek) pahala salat, puasa dan zakat, tapi (sementara itu) ia datang setelah (di dunia) mencaci ini, Maka diberikanlah pahala-pahal kepada si ini dan si itu. Jika habis pahala-pahalanya kebaikannya sebelum dipenuhi apa yang menjadi tanggungannya maka diambilah dosa-dosa mereka (yang pernah dizalimi) dan ditimpakan kepadanya, kemudian dicampakanlah ia ke api neraka” Nauzubillah !Ternyata mulut, tangan kaki, perut dan angota tubuh kita yang biasa kita gunakan untuk beribadat, bersujud, berzikir, berpuasa, memberikan zakat, dapat membuat kita pailit kelak. Tidak hanya menghabiskan modal pahala yang kita tumpuk sepanjang umur kita, tapi bahkan dapat menarik kepada kita kerugian orang lain. Ini semua tentunya gara-gara kita terlalu meremehkan dosa dan kesalahan terhadap sesama.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallâhu'anhu, Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

Sesungguhnya bukanlah orang yang menyambung silaturahmi
adalah orang yang membalas kebaikan,
namun orang yang menyambung silaturahmi adalah
orang yang menyambung hubungan
dengan orang yang telah memutuskan silaturahmi.[2]



TRADISI 'MUDIK LEBARAN' DALAM TINJUAN ISLAM

Padahal yang benar, mudik tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam karena tidak ada satu perintahpun baik dari Al-Qur’an maupun As Sunnah yang menyatakan bahwa, setelah menjalankan ibadah Ramadhan harus melakukan acara silaturahmi untuk kangen-kangenan dan maaf-maafan, karena silaturahmi bisa dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan dan kondisi.

Apabila yang dimaksud mudik lebaran sebagai bentuk kegiatan untuk memanfaatkan momentum dan kesempatan untuk menjernihkan suasana keruh dan hubungan yang retak, sementara tidak ada kesempatan yang baik kecuali hanya waktu lebaran, maka demikian itu boleh-boleh saja. Namun, bila sudah menjadi suatu yang lazim dan dipaksakan, serta diyakini sebagai bentuk kebiasaan yang memiliki kaitan dengan ajaran Islam, atau disebut dengan istilah tradisi Islami, maka demikian itu bisa menjadi bid’ah dan menciptakan tradisi yang batil dalam ajaran Islam.

Sebab seluruh macam tradisi dan kebiasaan yang tidak bersandar pada petunjuk sya
dan dipaksakan, serta diyakini sebagai bentuk kebiasaan yang memiliki kaitan dengan ajaran Islam, atau disebut dengan istilah tradisi Islami, maka demikian itu bisa menjadi bid’ah dan menciptakan tradisi yang batil.

KESALAHAN-KESALAHAN PADA SAAT HARI RAYA 'IEDUL FITRI

1. Meniru orang kafir dalam berpakaian. Fenomena ini merupakan hal aneh. Padahal seorang muslim dan muslimah seharusnya memiliki semangat untuk menjaga agama, kehormatan dan fitrahnya. Jangan tergoda dengan ikutikutan meniru kebiasaan orang-orang yang tidak menjaga kehormatannya.

2. Sebagian orang menjadikan hari raya sebagai syiar melaksanakan kemaksiatan, sehingga secara terang-terangan ia melakukan perbuatan yang diharamkan. Misalnya dengan mendengarkan musik dan nyanyian dan memakan makanan yang diharamkan Allâh Ta'ala.

3. Dalam berziarah (kunjungan) tidak memperhatikan etika Islami. Contohnya : bercampurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, saling berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

4. Berlebih-lebihan dalam membuat makanan dan minuman yang tidak berfaedah, sehingga banyak yang terbuang, padahal banyak kaum Muslimin yang membutuhkan.

5. Hari Raya merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menyatukan hati kaum Muslimin, baik yang ada hubungan kerabat ataupun tidak. Juga kesempatan untuk mensucikan jiwa dan menyatukan hati. Namun pada kenyataannya, penyakit hati masih tetap saja bercokol.

6. Menganggap bahwa silaturahmi hanya dikerjakan pada saat hari raya saja.

7. Menganggap bahwa pada hari raya sebagai saat yang tepat untuk ziarah kubur.

8. Saling berkunjung untuk saling maaf-memaafkan di antara para kerabat dan sanak famili dengan keyakinan saat itulah yang paling afdhal.

(dikutip; dari berbagai sumber)

Minggu, 15 Agustus 2010

Doa yang sangat Familiar.. Entahlah berasal dari mana..yg pasti sungguh memanjakan hati..hehe..Amin!


Ya Allah,
jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan
cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah,
jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang
hatinya tertaut pada-Mu, agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta
semu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.
Ya Allah,
jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi
kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah,
jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan
terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah,
jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui
batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya
kepada-Mu.
Ya Allah
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta
pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah
pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kokohkanlah ya Allah
ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah
hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah
dada-dada kami dengna limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan
bertawakal di jalan-Mu.^_^

"Para Lelaki Shalih Tidak Akan Mampu Mencari Pengganti Wanita Pendampingnya (Istri), Karena Kesetiaannya Kepada Allah.


... "Para laki-laki shalih akan merasa bahwa kelak pendampingnya adalah anugerah terindah yang diberikan Allah Swt pada dirinya, dan tidak akan mampu mencari penggantinya.

Jika para laki-laki shalih mendapati pasangannya suatu kekurangan, sungguh itu tak sebanding dengan kelebihannya. Maka itu bimbinglah sahabat sejatimu menjadi sempurna dengan bimbingan yang bijaksana, sebagaimana Rasulullah membimbing.

Dari Abu Hurairah r.a., katanya Nabi Saw bersabda: "Siapa yang iman dengan Allah dan hari kiamat, maka apabila dia menyaksikan suatu peristiwa, hendaklah dia menanggapi dengan baik atau diam. Bijaksanalah membimbing wanita, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bahagiannya yang paling bengkok ialah yang sebelah atas. Jika engkau berusaha meluruskannya, niscaya dia patah. Tetapi jika engkau biarkan, dia akan senantiasa bengkok. Karena itu bijaksanalah membimbing wanita dengan baik." (Era Muslim)
Bilamana orang-orang baik memberikan pelajaran melalui pengalaman yang menyenangkan, maka orang-orang yang menyusahkan justru memberikan pengalaman yang pahit dan getir, sebuah pelajaran yang tak akan terlupakan sepanjang hidup kita.

Pengalaman yang menyenangkan lebih mudah kita kupakan, karena hal itu tidak masuk terlalu dalam ke dalam memori kita atau bahkan kita menganggap sepele

manfaat yang diberikan orang-orang ini. Mereka sebenarnya telah memberikan experential learning yang tidak akan mungkin kita lupakan, yaitu mengenai betapa sakit rasanya diperlakukan seperti itu.

Rasa sakit yang luar biasa ini sangat kita perlukan untuk membantu kita memahami perasaan yang akan dirasakan orang lain bila kita melakukan tindakan yang sama. Memahami lebih dari sekedar mengetahui. Kalau Anda mengetahui sesuatu, Anda belum paham karena Anda baru masuk ke ‘teorinya’, tapi kalau Anda sudah merasakannya, Anda akan memahami. Anda bahkan akan masuk ke alam kesadaran.

Berterima kasih disini bukan dalam pengertian sinisme. Melainkan berterima kasih secara tulus dan dari lubuk hati kita yang paling dalam. Bukankah hanya orang-orang ini yang berani mengambil resiko untuk menjadi orang yang tidak disukai ? Bukankah mereka telah mengajarkan kepada kita untuk menjadi jauh lebih baik dari hari ke hari ? Bukankah dengan pengalaman pahit yang mereka berikan, kita dapat tumbuh secara spiritual ? Bahkan dalam konteks yang lebih luas, orang-orang itu sebenarnya telah diutus oleh Allah untuk berjumpa dengan kita di dunia ini, dan mengajarkan sesuatu yang tak dapat diajarkan oleh kawan-kawan dan sahabat-sahabat kita yang lain.

Jadi beruntunglah anda yang pernah merasa terhina, diejek, anda ambil energinya dan pelajarannya, sehingga anda bisa sukses besar nantinya.